Theta – Awal Cerita

Screenshot_2015-09-04-10-19-58-1

Awal Bertemu

Sekitar setahun lalu, saya lupa tepatnya kapan, saya berjalan kaki pulang dari kantor. Di sebuah tikungan saya melihat seekor kucing kecil yang sedang duduk lesu di dekat tempat sampah. Sempat mau berlalu tapi tanpa sadar kepala saya menoleh lama ke arah anak kucing itu. Tanpa berpikir lagi saya gendong anak kecil itu dan terasa sekali badannya yang hanya terdiri dari tulang dan kulit. Saya hanya berbisik lirih, “Kita pulang yuk, ada makanan di rumah.”

Sebenarnya saya masih agak trauma memungut anak kucing karena 2 minggu sebelumnya Chino , anak kucing yang saya ambil dari depan kantor yang berlumuran kopi karena disiram oleh tukang ojek disitu, mendadak wafat. Akhirnya saat sampai di rumah dan persediaan wet food masih ada, langsung habis dimakan anak kecil ini. Dia tidak bersuara sama sekali, tapi terlihat jelas sakit parah dan ternyata kakinya robek besar seperti terkena sesuatu yang panas.

IMG_20150905_224559

We Love Taking a Selfie

Theta, kami memanggilnya. Perkiraan umur 2 bulan dengan malnutrisi, sakit flu parah, terindikasi cacat otak karena toxo oleh dokter yang saya ragukan kredibilitasnya. Akhirnya atas rekomendasi cat lovers di Facebook, kami membawa Theta ke klinik PDHB Drh. Cucu Green Garden. Disana Theta mendapat perawatan nebu yang harus dijalani seminggu tidak boleh putus, jahitan untuk luka robeknya dan berbagai macam suntikan.

Perjalanan rumah ke klinik lumayan jauh, 1 jam perjalanan dengan motor kami tempuh setiap hari selama seminggu, saya sendiri setiap jam istirahat selalu pulang untuk memberi Theta makan dengan cara di spet, karena Theta tidak bisa makan sendiri. Berminggu-minggu Theta berjuang. Bolak balik ke dokter, minum obat ini itu, namun flu nya tak kunjung sembuh. Sampai akhirnya dokter memberitahu bahwa kemungkinan Theta tidak akan pernah hilang sakit flunya.

IMG_20150905_224054

Theta bisa ngambek

 Theta itu unik. 2 bulan tinggal di kandang, akhirnya saya memperbolehkan dia tidur dengan saya. Posisi favoritnya di pojok kanan bantal saya dan sejak hari itu dia tidak pernah absen tidur dekat saya. Theta berbeda, karena dia seperti mengerti jika diajak ngobrol. Dia akan membalas dengan suaranya yang lucu. Dia penyelamat saya disaat saya harus berjuang melawan depresi. Saat saya menangis, Theta akan datang dan menggigit jari saya sambil mengeluarkan suara khasnya. Dia selalu menyambut saya saat pulang kerja atau pergi darimana pun. Dia tidak pernah jauh dari sisi saya. Bahkan pernah dia ditaruh bersama kucing-kucing lain di kamar kucing. Hasilnya dia ngambek gak mau makan selama hampir 2 bulan sampai kembali sakit. Akhirnya dia pun dikeluarkan dan diperbolehkan tidur kembali dengan saya. Hasilnya? Kesehatannya membaik dengan cepat.

IMG_20150905_050247

Foto di detik-detik terakhir

Beberapa hari sebelumnya, saya memperhatikan tingkahnya agak aneh. Bahkan saya sempat bercanda, ” Theta jangan masuk kamar mandi deh. Nanti kenapa-kenapa aja.” Dan malam itu semakin aneh buat saya. Theta tidak menyambut saya pulang. Entah dia dimana. Saat saya mencarinya dia berada di kamar mandi lagi. Saat saya angkat tubuhnya ada yang aneh, dia tidak melawan, dan saya baru sadar berat badannya ringan sekali. Perasaan saya sudah tidak enak. Tatapan matanya pun juga aneh.

Malam itu saya bawa dia ke tempat tidur ke posisi favoritnya. Namun saat subuh terbangun saya tidak menemukannya di samping saya. Saya mencarinya ke sudut-sudut rumah dan menemukan dia duduk di celah kulkas. Saat mengangkat tubuhnya, saya tahu waktunya sudah dekat. Kembali saya membawanya ke tempat tidur. Menatap mata kosongnya.

Tak terasa air mata sudah mengalir deras karena saya semakin merasakan waktunya sudah semakin dekat. Saya sempat egois dengan mengatakan, “Bunda gak rela kalau Theta pergi. Tolong jangan tinggalin Bunda ya. Nanti kalau Theta pergi, Bunda sama siapa? Bunda gak mau Theta pergi.”

Tapi saya sadar, saya sangat egois dengan berkata seperti itu. Lama kami saling menatap. Air mata saya benar-benar tidak bisa dibendung. Apalagi saat tangannya meremas pelan jari-jari saya. Perlahan matahari bersinar. Saya membawanya ke spot favoritnya yang lain. Di depan jendela kamar tidur kami. Theta bisa menghabiskan waktu berjam-jam disitu.

20150904_072532

Foto terakhir Theta

Saya pun berbisik di telinganya, “Kalau Theta udah gak kuat, Theta bobo aja ya.. Bunda akan selalu sayang Theta. Sayanggg banget. Bunda pasti akan kangen banget sama Theta. Terima kasih ya atas kasih sayang Theta selama ini..”

Ada yang bilang kalau kucing tidak mau ownernya melihat mereka wafat. Saya pun tahu kalau Theta juga tidak mau melihat saya sedih. Theta wafat saat kami sedang perjalanan ke kantor yang membuat kami berbalik arah lagi menuju rumah. Sesampainya di rumah, saya memeluk tubuh mungilnya. Masih ada perasaan tidak rela, menangis sejadi-jadinya.

Gloomy Friday.. Good bye my soulmate.. my half.. my best friend..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s