Semua Cobaan itu Malah Membuatku Jadi Wanita Bersyukur

Beberapa bulan lalu saya iseng ikutan kuis membuat tulisan menyambut hari Kartini di vemale.com

http://vemale.com/inspiring/lentera/80833-semua-cobaan-itu-malah-membuatku-jadi-wanita-bersyukur.html ).

Ternyata dipublish! Dan menjadi salah satu pemenang. Cerita ini kisah nyata tentang kehidupan saya secara keseluruhan. Berikut cerita asli yang saya kirim ke redaksi vemale.com..

—————————————————————–

Hujan.
Teman terbaik saya. Karena saya merasa hujan bisa menghapus segala rasa sedih yang ada.

Semua baik-baik saja. Sampai ibu saya didiagnosis kanker saat saya berumur 6 tahun. Setahun menjalani pengobatan kesana kemari, ibu divonis kanker yang sudah komplikasi. Kanker rahim, kelenjar getah bening, payudara, semua menggerogoti tubuh ibu secara perlahan. Hingga hari itu tiba, ibu dipanggil oleh-Nya saat umur saya 7 tahun.

Ayah saya menikah kembali dengan anak angkat di keluarga saya dengan pemikiran wanita ini sudah dekat dengan kami, anak-anaknya. Nyatanya ini hanya menjadi boomerang. Keluarga besar ibu menolak. Kehidupan saya dan kakak-kakak hancur berantakan. Wanita itu jelas hanya ingin uang ayah saya. Tidak ada keharmonisan di keluarga kami.

Kehidupan remaja saya semakin hancur saat saya yang harus menjadi saksi perselingkuhan ibu tiri saya itu. Perceraian terjadi, adik tiri saya diperebutkan. Saya semakin tenggelam dalam kesedihan. Di usia 14 tahun saya sudah mengenal rokok, minuman keras dan suka menyakiti diri saya sendiri. Di keheningan malam saya luapkan kesedihan saya dengan menyilet bagian tangan. Berusaha meluapkan semua sakit hati saya karena ditinggalkan, dan tidak dipedulikan.

Ayah menikah lagi. Namun tidak lebih baik. Ibu tiri yang baru ini juga hanya mengincar harta. Buat dia saya adalah ancaman sehingga akses saya ke ayah ditutup. Saya ingat betul malam itu, ayah ingin membelikan saya handphone baru untuk menunjang kuliah tapi ditentang oleh ibu tiri saya. Dia mengeluarkan kata-kata yang membuat saya berontak. Saya lari dari rumah. Sakit rasanya. Kaki berjalan tak tentu arah sambil menangis. Setelah keliling tak tentu arah selama sejam, saya melihat ayah dari kejauhan. Dengan raut muka kebingungan beliau mencari saya. Tak tega saya hampiri beliau dan memeluknya. Disitulah semua terlihat jelas. Ayah jelas lebih membela putra putrinya. Lagi-lagi perceraian terjadi.

Kami pun keluar dari rumah yang dibangun dengan seluruh uang pensiun ayah. Tak sedikitpun penyesalan walau akhirnya kami tak memiliki rumah dan uang berlebih lagi. Disitu pulalah tamparan keras bagi saya. Sebagai wanita satu-satunya saya bertanggung jawab mengurus ayah dan adik saya.

Setahun kemudian ayah memutuskan untuk pindah keluar kota sedangkan saya tetap tinggal di Jakarta. Kebingungan karena untuk pertama kalinya lepas dari ayah. Mencari pekerjaan kesana kesini. Kadang sehari hanya makan sekali. Bahkan teringat saat tak punya uang dan mengumpulkan recehan kemudian direkatkan isolasi untuk ongkos naik angkutan umum.

Saya tak mau menyerah. Saya selalu bilang ke ayah bahwa saya baik-baik saya di Jakarta walau sesudahnya menangis karena menahan lapar. Pekerjaan saya pindah-pindah. Sebagai pekerja kantoran di dunia IT dan mengejar mimpi menjadi penyiar radio saya jalani. Sampai akhirnya keadaan membaik. Gaji saya tidak besar karena masih mengejar mimpi, tapi saya belajar banyak dari mantan-mantan bos saya. Belajar mengenai bisnis, bagaimana membangun mimpi yang lebih besar lagi dan terus berjuang tanpa mengenal lelah.

Saat ini saya akan berusia 28 tahun dan saya bekerja di perusahaan swasta dengan gaji cukup, mempunyai bisnis kecil-kecilan yang terus membesar, akan mempunyai rumah sendiri walau hanya rumah sangat sederhana. Saya sadar, tanpa tempaan cobaan dari kecil saya tidak akan menjadi wanita seperti sekarang. Diajarkan oleh-Nya untuk menjadi wanita yang kuat dan pantang menyerah. Tuhan mempunyai caranya sendiri untuk menempa umatnya, semua tergantung masing-masing individunya. Apakah akan melihat cobaan itu sebagai sesuatu yang buruk atau malah melihatnya sebagai ajang pembentukan diri. Saya sangat bersyukur Tuhan memberikan pelajaran ini dan mempertemukan dengan orang-orang hebat yang sudah menjadi mentor saya selama ini. Dan saya sangat bersyukur atas segala sesuatu yang saya dapatkan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s